Ngeblog
Ngeblog. Sebenarnya saya sudah lama sekali belajar blog. Tapi bukan belajar bagaimana cara menulis yang baik dan benar, tapi belajar buat blog, memvariasi penampilan blog dengan memainkan rumus-rumus rumit di html-nya, hingga membelikan domain khusus untuk blog pertama saya.
Blog pertama saya terlihat indah penampilannya namun nihil esensi. Blog pertama saya full musik, karena langsung tersambung dengan link streaming radio Suara Gontor FM (Suargo FM). Selain itu, saya tambah beberapa fitur terbaru yang langsung saya desain sendiri di coreldraw atau photoshop. Waktu itu memang lagi hobi-hobinya desain karena selama di pondok saya selalu ditempatkan di bagian yang tidak terlepas dari dunia desain.
Terus kenapa sekarang saya mulai ngeblog lagi? Simpel sih, jujur saja karena dari kecil saya tidak suka menulis, dan sekarang ingin belajar menulis. Saya berkeinginan punya tulisan yang bisa dikenang sendiri dan bermanfaat bagi pembaca.
Dahulu, dunia tulis menulis bagi saya adalah hal yang "nggak banget" bagi laki-laki. Menurut saya tulis-menulis itu hanya aktivitas perempuan. Laki-laki tidak suka curhat-curhat alay di buku harian ataupun blog. Aktivitas laki-laki itu kalau bukan main bola, futsal, motor atau yang lainnya. Pokoknya menulis itu nggak banget! Namun seiring waktu, pandangan saya terhadap dunia tulis menulis mulai berubah.
Dari kecil saya bukan pecinta bidang akademik meskipun tidak jarang saya dapat ranking atau nilai bagus saat sekolah maupun kuliah. Dulu motivasi saya dapat nilai bagus atau dapat ranking bukan biar jadi orang pintar, lanjut kuliah di universitas ternama, ataupun jadi guru/dosen. Jujur saja, saya rajin belajar biar tidak dimarahin orang tua dan biar orang tua senang kalau saya bisa membanggakan mereka, bukan karena passion saya belajar.
Btw saya kasih tau, waktu orang tua saya dapat kabar kalau nilai anaknya yang kedua ini bagus dan dapat ranking di kelas, maka segala urusan akan menjadi mudah. Saya bisa minta hal apapun yang hampir mustahil dibelikan. Itulah mengapa saya semakin giat belajar. Rumusnya, semakin bagus nilai saya, maka segala keinginan akan tercapai hehe.
Sejak kecil saya hobi sepak bola. Saya sering menjadi andalan kelas atau sekolah saat bertanding dengan kelas lain atau sekolah lain. Suatu ketika ada teman saya yang pernah ikut Liga Danone mengajak saya untuk daftar SSB-nya (Sekolah Sepak Bola) karena ia beranggapan kalau saya punya bakat di bidang sepak bola. Tapi apa boleh buat, orang tua tidak setuju. Orang tua tidak mau membelikan sepatu bola buat saya. Herannya, teman saya itu sampai bela-belain memberi saya sepatu lamanya biar saya ikut SSB-nya. Tapi tetap zonk! Orang tua tidak setuju. Saya hanya bisa belajar sepak bola otodidak di halaman depan rumah atau belakang rumah dengan menerapkan tutorial skill sepak bola terbaru dari pemain-pemain favorit saya seperti Steven Gerrard, Ronaldinho, Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang saya saksikan di layar komputer atau laptop. Selebihnya saya hanya bermain di lapangan desa dengan anak-anak desa.
Kisah itu berlanjut ketika masa SMP. Tidak jauh beda, saya hanya menjadi pemain bola andalan kelas atau SMP saja. Paling mentok, orang tua pernah menyekolahkan saya di SSB Stadion Bathoro Katong. Itupun cuma bertahan 2 minggu karena orang tua tidak bisa terus-terusan mengantar dan menunggu saya di stadion.
Setelah SMP saya ingin melanjutkan studi di Pondok Gontor. Salah satu motivasi saya masuk Pondok Gontor adalah untuk ikut salah satu klub bola di Pondok Gontor. Tapi bagaimana mau ikut, sepatu bola saja saya tidak punya. Saya cuma punya sepatu jogging, itupun karena semua santri harus punya untuk dipakai jogging wajib tiap hari selasa dan jum'at serta untuk latihan baris berbaris. Apa boleh buat, akhirnya saya merelakan diri untuk daftar di klub futsal yang tidak harus pakai sepatu bola, meskipun saat itu saya sudah dibujuk-bujuk agar ikut klub bola oleh beberapa orang.
Kelas 3 intensif adalah saat pertama kali bagi saya terjun di dunia futsal. Lucunya, sepatu jogging yang saya punya tidak cocok untuk futsal. Sepatu futsal berbeda dengan sepatu jogging. Saya sering terpeleset dan terjatuh di atas lapangan futsal karena memang sepatunya tidak cocok dengan medannya. Tendangan saya yang aslinya kencang bak petirpun jadi lembek. Duhai... Tapi saya paham kalau saya punya trik khusus agar orang tua mau membelikan sepatu futsal. Saya harus melunakkan hati orang tua dengan nilai-nilai ujian atau ranking. Alhamdulillah, di awal tahun nilai saya lumayan bagus. Setelah orang tua tahu, mereka langsung bertanya, "Adek mau dibelikan apa?" "Pengen sepatu futsal" jawabku. Tak berlangsung lama, esoknya setelah percakapan singkat itu terjadi, sang ayah mengantarkan saya ke salah satu toko sepatu olahraga di Ponorogo. Saya orangnya sedikit canggung sama orang tua, apalagi perihal meminta. Waktu itu saya hanya minta sepatu futsal yang tidak hanya murah, tapi juga murahan, yang harganya cuma 50 ribu rupiah tapi sudah dapat dua, kanan dan kiri hehe.
Intinya sejak kecil passion saya bukan di bidang akademik, saya lebih suka non akademik. Namun saat ini saya sudah terlanjur tenggelam di bidang akademik. Saya tidak bisa terus-terusan berharap di bidang non akademik. Impian saya untuk menjadi pemain sepak bola, membanggakan timnas Indonesia sudah sirna. Saat ini saya sudah menginjak semester 6 di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga. Jurusan ini menuntut saya untuk belajar menulis. Apa kata orang jika anak bahasa, anak sastra tidak bisa menulis. Memang jurusan ini murni pilihan orang tua. Saya tidak punya passion di jurusan ini. Sampai sekarang pun saya sering bertanya-tanya, mengapa saya harus rajin-rajin kuliah kalau saya tidak ada minat di jurusan ini? Mengapa saya harus memikirkan kuliah kalau saya tidak suka bersastra, menjadi kritikus sastra, linguis, ataupun penerjemah? Semester 6 bukanlah semester baru lagi. Ini sudah lebih dari setengah perjalanan kuliah. Sungguh merugi jika saya menjadi sarjana namun tak bisa apa-apa. Sungguh merugi jika menulis saja saya tidak bisa. Saya takut, ketika sudah terjun di masyarakat nanti akan dipertanyakan keilmuan saya. Setidaknya meskipun saya tidak berprofesi sesuai jurusan saya tadi, saya masih bisa memanfaatkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan di jurusan saya ini entah dalam hal apa. Mulai sekarang, mau tidak mau, saya harus memaksakan diri untuk mulai mencintai bidang akademik.
Kata orang, menulis dapat mengubah dunia. Saya percaya dengan hal itu, namun setidaknya dengan menulis saya dapat mengubah diri saya menjadi lebih baik. Dengan menulis, segala hal akan lebih sistematis. Pola hidup dan manajemen waktu kian sistematis. Impian-impian baru pun akan terlihat realistis.
Mungkin dengan perantara blog ini saya mulai belajar menulis. Tidak masalah kalau tulisan pertama ini acak-acakan. Namanya memulai tidak boleh takut salah. Lama-kelamaan insyaallah bagus sendiri tulisannya. Doakan, semoga bisa istiqomah dan kian menginspirasi. Aamiin :D
Tunggu tulisan saya di postingan selanjutnya yaaa! ^_^
Mungkin dengan perantara blog ini saya mulai belajar menulis. Tidak masalah kalau tulisan pertama ini acak-acakan. Namanya memulai tidak boleh takut salah. Lama-kelamaan insyaallah bagus sendiri tulisannya. Doakan, semoga bisa istiqomah dan kian menginspirasi. Aamiin :D
Tunggu tulisan saya di postingan selanjutnya yaaa! ^_^

Komentar
Posting Komentar