Postingan

Tangga Kesuksesan

قال أحد الحكماء: النجاح سلم لا تستطيع تسلقه ويداك في جيبك Orang bijak berkata, "Kesuksesan ialah tangga yang tak dapat engkau naiki selama kedua tanganmu masih berada dalam sakumu". Yap, benar sekali apa yang dikatakan orang bijak itu. Selama kita tidak mau berusaha keras untuk impian kita, kita masih hanya sebatas pemimpi. Pemimpi akan tetap jadi pemimpi sampai ia terbangun dan melakukan usaha yang konkret dan kontinyu. Usaha yang ditempuhpun juga harus dengan cara-cara yang benar. Ibarat seseorang yang ingin naik ke genteng rumah dengan menggunakan tangga, ia sudah tahu di mana genteng yang dituju, ia sudah tahu untuk menuju genteng itu ia harus menggunakan tangga, dan ia paham betul bagaimana tata cara menaiki tangga yang benar. Akan tetapi ia tidak merealisasikannya dalam langkah konkret. Kedua tangannya masih berada dalam sakunya. Padahal tangan memiliki andil yang sama besar dengan kaki dalam urusan menaiki tangga. Seseorang akan kesulitan bahkan takkan bisa menaik...

Biarkan Aku Duduk Manis

Biarkan aku duduk manis sembari menikmati teh yang tertuang di sepotong cangkir kehidupan merenungi agustus yang kian tua dan senja yang tak mampu lagi mengeja sebaris lara yang tergores kata-kata yang kau lafalkan di penghujung jumpa Biar..., biarkan aku duduk manis sembari mengatupkan sepasang binar mataku dan memutar masa silam mengetuk pintu kenangan saat kata-kata manismu menari-nari di taman jiwaku dan sorot matamu yang sayu bergelayutan di nyanyianku sampai aku lengah dan terlupa bahwa ada perih yang masih tersisa Ponorogo, 29/08/18

Melangit

Entah mengapa tiba-tiba aku ingat setangkai senyummu yang kau letakkan begitu saja di kelopak mataku bersahaja menyejukkan kerongkongan jiwaku yang dahaga cinta Engkau datang dengan seribu sayap asa yang kau kepak-kepakkan di hadapanku mengajakku terbang menembus cakrawala agar cinta kita tak hanya bersemayam di bumi tapi juga melangit Ponorogo, 18/08/18

Maafkan kami

Dulu begitu gemuruh teriak kami bahwa kita serupa satu tubuh, bila ada satu anggota yang terluka, niscaya seluruhnya turut merasa. Namun entah mengapa, kini kami begitu tega merangkai tawa di atas duka, bersenda gurau saat kalian risau, pura-pura lupa saat kalian lara. Ah, mungkin kami sudah mati rasa. Aduhai, haruskah bumi bergoyang di bawah kaki kami dahulu? Haruskah rumah-rumah kami rata dengan tanah dahulu? Haruskah semua itu terjadi baru kami bisa menyadari? Maafkan kami, saudaraku. Maafkan kami yang tak pandai merapal doa-doa agar malaikat bersedia memayungi kalian. Maafkan kami yang begitu kikir, hingga tak serupiahpun terderma untuk kalian. Maafkan kami yang tak pernah tahu harus menjawab apa saat kelak Allah menanyai kami tentang kalian. Ponorogo, 06/08/2018

Maafkan Aku

Maafkan aku yang tak kuasa menahan busur senyummu agar tidak menancap di hatiku Maafkan aku yang tak kuasa membendung sorot matamu agar tidak mencumbui kelopak mataku Maafkan aku yang tak kuasa memasung penaku agar tidak mempuisikanmu Maafkan aku yang tak kuasa menikam angin malam agar tidak mengabarkanmu bahwa petang ini aku merindumu Ponorogo, 02/08/2018

Aku akan melamarmu lagi

Aku dan kau duduk di balkon rumah menatap gemintang yang menempel di langit dan layang-layang malam yang merakit gaduh membisu sepuluh detik Kugamit tanganmu kuremas jarimu kudekap tubuhmu kau pandangiku dengan setangkai air mata Tersenyumlah perpisahan itu niscaya begitulah dunia selalu fana Aku berjanji kelak di negeri abadi aku akan melamarmu lagi walau seribu bidadari merayu dan menari Kuyakin di sana cinta kita masih pelangi Balkon rumah, 31/07/2018

Jantung-Hatiku

Benang luka yang kau sulam pada kakiku tak kan mengusikku tuk beranjak dari jantung-hatiku biar pincang aku tetap berlari di atas tanah lapang berselimut debu menarikan tarian kupu-kupu diiringi irama lagu kemarau menantang yang merintang menghalau yang mengacau meliuk-liuk lalu terbang dan tendang Aku tak mungkin menabur cemburu pada jantung-hatiku sebab ia telah menjelma candu bagiku yang padanya separuh jiwaku kutambatkan Ponorogo, 30/07/2018