Maafkan kami

Dulu begitu gemuruh teriak kami bahwa kita serupa satu tubuh, bila ada satu anggota yang terluka, niscaya seluruhnya turut merasa. Namun entah mengapa, kini kami begitu tega merangkai tawa di atas duka, bersenda gurau saat kalian risau, pura-pura lupa saat kalian lara. Ah, mungkin kami sudah mati rasa.

Aduhai, haruskah bumi bergoyang di bawah kaki kami dahulu? Haruskah rumah-rumah kami rata dengan tanah dahulu? Haruskah semua itu terjadi baru kami bisa menyadari?

Maafkan kami, saudaraku. Maafkan kami yang tak pandai merapal doa-doa agar malaikat bersedia memayungi kalian. Maafkan kami yang begitu kikir, hingga tak serupiahpun terderma untuk kalian. Maafkan kami yang tak pernah tahu harus menjawab apa saat kelak Allah menanyai kami tentang kalian.

Ponorogo, 06/08/2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What is Tasyji' Ghonam?

Ngeblog

Aku akan melamarmu lagi