Tangga Kesuksesan
قال أحد الحكماء: النجاح سلم لا تستطيع تسلقه ويداك في جيبك
Orang bijak berkata, "Kesuksesan ialah tangga yang tak dapat engkau naiki selama kedua tanganmu masih berada dalam sakumu".
Yap, benar sekali apa yang dikatakan orang bijak itu. Selama kita tidak mau berusaha keras untuk impian kita, kita masih hanya sebatas pemimpi. Pemimpi akan tetap jadi pemimpi sampai ia terbangun dan melakukan usaha yang konkret dan kontinyu. Usaha yang ditempuhpun juga harus dengan cara-cara yang benar. Ibarat seseorang yang ingin naik ke genteng rumah dengan menggunakan tangga, ia sudah tahu di mana genteng yang dituju, ia sudah tahu untuk menuju genteng itu ia harus menggunakan tangga, dan ia paham betul bagaimana tata cara menaiki tangga yang benar. Akan tetapi ia tidak merealisasikannya dalam langkah konkret. Kedua tangannya masih berada dalam sakunya. Padahal tangan memiliki andil yang sama besar dengan kaki dalam urusan menaiki tangga. Seseorang akan kesulitan bahkan takkan bisa menaiki tangga tanpa menggunakan sepasang kaki dan tangannya. Walhasil setiap kali ia berusaha menaiki tangga tersebut, ia akan terjatuh berkali-kali dan tak akan bisa menuju genteng yang dituju. Selaras dengan impian atau cita-cita kita, selain kita harus bermimpi dan bercita-cita setinggi langit dan mengetahui bagaimana jalan dalam merealisasikannya, kita juga harus mengimbanginya dengan langkah-langkah konkrit dan kontinyu.
Sebagai contohnya saat ini saya punya impian untuk menjuarai kompetisi futsal yang diadakan IKPM Gontor. Untuk kompetisi awal sistem knockout dibagi per-regional sebelum pertandingan final yang diadakan di Gontor pusat. Juara 1 tingkat regional akan mendapat hadiah 10 juta, sedangkan juara 1 di Gontor pusat akan mendapat hadiah 40 juta. Hadiah yang sangat fantastis bukan untuk ukuran kompetisi futsal?! Lumayan, jika menjuarai keduanya maka sebuah tim akan mendapat total hadiah sebanyak 50 juta.
Hadiah kompetisi tersebut memang sangat menggiurkan, akan tetapi saya tahu bahwa pesertanya bukan peserta amatiran (kalau dalam bahasa kekinian "bukan peserta kaleng-kaleng"). Sebab pesertanya adalah anak-anak yang sejak di pondok sudah hobi sepak bola/futsal dan lumayan jago-jago saat membela timnya masing-masing. Dari sinilah saya tahu bahwa untuk menjuarai kompetisi ini butuh latihan keras dan kontinyu. Untuk menjadi juara 1 tidak bisa dicapai dengan latihan biasa seperti latihan yang kami lakukan untuk kompetisi-kompetisi sebelumnya. Walhasil kami satu tim sepakat untuk serius berlatih sebanyak 2 kali sepekan dengan menyewa seorang pelatih yang sudah mendapat lisensi PSSI di bidang futsal. Dari pelatih tersebut kita akan mendapatkan pelatihan teknik individu dan pola permainan tim yang benar agar permainan tim kami tidak sekacau permainan sebelumnya yang tanpa teknik individu dan pola permainan yang apik. Selain membutuhkan fisik yang prima, kami dituntut untuk memiliki kemampuan finansial yang baik. Sebab 2 kali latihan dalam seminggu lumayan menguras isi dompet hehe. Untung saja kami tahu bahwa jer basuki mawa beya, demi terealisasinya impian, kami butuh banyak biaya yang harus dikeluarkan.
Yap, inilah tangga yang harus kita naiki untuk menjuarai kompetisi tersebut. Tangga kesuksesan yang harus dinaiki dengan cara yang benar, bukan asal-asalan. Namun selain itu kami tidak boleh lupa dengan tangga yang terpenting, yaitu kekuatan the invincible hand. Kita selalu memohon kepada Allah Ta'ala untuk memudahkan langkah kami untuk merealisasikan impian kita tersebut. Ganbatteee!!! See us on the top!!!
Jogja, 04/11/2018
Komentar
Posting Komentar