Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Aku akan melamarmu lagi

Aku dan kau duduk di balkon rumah menatap gemintang yang menempel di langit dan layang-layang malam yang merakit gaduh membisu sepuluh detik Kugamit tanganmu kuremas jarimu kudekap tubuhmu kau pandangiku dengan setangkai air mata Tersenyumlah perpisahan itu niscaya begitulah dunia selalu fana Aku berjanji kelak di negeri abadi aku akan melamarmu lagi walau seribu bidadari merayu dan menari Kuyakin di sana cinta kita masih pelangi Balkon rumah, 31/07/2018

Jantung-Hatiku

Benang luka yang kau sulam pada kakiku tak kan mengusikku tuk beranjak dari jantung-hatiku biar pincang aku tetap berlari di atas tanah lapang berselimut debu menarikan tarian kupu-kupu diiringi irama lagu kemarau menantang yang merintang menghalau yang mengacau meliuk-liuk lalu terbang dan tendang Aku tak mungkin menabur cemburu pada jantung-hatiku sebab ia telah menjelma candu bagiku yang padanya separuh jiwaku kutambatkan Ponorogo, 30/07/2018

Terima Kasih, Kenteng (Lokasi KKN 2017)

Setahun yang lalu kau lukis tujuh garis warna bianglala di lorong-lorong hatiku yang sudah lama kelabu kau sematkan sekuntum mawar di padang rerumputan batinku yang sudah lama tandus kau senandungkan syair-syair asmara di telingaku yang sudah lama berhenti mengalun kau pintal seikat senyum di raut wajahku yang sudah lama murung kau nyalakan api cinta di tiap tapak kakiku yang sudah lama padam Terima kasih, Kenteng sudah berkenan menjadi sepenggal episode berharga di hidupku kuharap pelukanmu masih seerat itu kuharap cumbumu masih selekat itu Jogja, 29/07/2018

Buku

Bertumpuk-tumpuk buku telah lama membisu terkapar lesu di rak-rak berdebu entah sudah berapa warsa mereka tak dijamah oleh otak yang tak mau diasah apa daya buku bukan lagi jendela yang dibuka manusia untuk berkelana menyusuri jelita dunia dan mengenal Penciptanya Grhatama Pustaka, 27/07/2018

Rindu

Pukul sembilan malam entah berapa kali gelas-gelas kopi di atas meja terbakar cemburu melirikku sedang terbenam dalam bayangmu yang datang bersama lirik-lirik lagu bergelayutan di matamu mengisyaratkan beribu-ribu waktu rindu kita tak kunjung bertemu Angkringan Jogja, 26/07/2018

Barangkali

Barangkali tanpa disadari di ujung petang ini semut-semut di kamarku sedang menangisi kepergianku untuk beberapa hari mengikhtiarkan sejumlah perkara yang tak pasti untuk merajut mentari pada setumpuk sanubari Otw Jogja, 25/07/2018

Untuk Adinda

Adindaku kutitipkan rindu ini pada hujan pada lembut rerintiknya agar ia jatuh pada kulitmu lalu dengan leluasa menggamit tanganmu kutitipkan rindu ini pada gemintang pada gemerlap kilaunya agar ia menghiasi malammu lalu dengan riang membuat langitmu benderang kutitipkan rindu ini pada angin pada gemulai semilirnya agar ia menerpamu lalu dengan ceria menyejukkan tubuhmu kutitipkan rindu ini pada senja pada ranum awannya agar ia menyapamu lalu dengan bahagia menemani soremu dengan anggun jingganya kutitipkan rindu ini pada pagi pada jernih embunnya agar ia memercikimu lalu dengan gembira menyegarkan dahaga jiwamu Adindaku rindu ini kutitipkan pada Pemilik semesta lewat merdu doa-doa agar kelak kala ku tiada Ia nyatakan padamu bahwa aku begitu cinta Ruang rindu, 24/07/2018

Nostalgia di Angkringan

Petang ini kita duduk bertiga di angkringan tongkrongan yang mudah ditemukan di jalanan memesan tiga cangkir kopi dan sejumlah gorengan mencipta kepulan asap bumbu keakraban Sembari menyantap sajian yang ada di hadapan kita bernostalgia tentang kealpaan umur delapan belasan masa dihantui bagian keamanan dan pengasuhan hingga kita dibuang ke tempat perantauan Tak hanya benostalgia tentang kealpaan di angkringan selaksa uneg-uneg dicurahkan kita hanyut dalam percakapan tentang masa depan tak peduli dengan orang lain yang khusyuk internetan Kendati sekian purnama tidak dipertemukan kita tak banyak mencipta perubahan yang kutahu senyum kita tetap rembulan di tengah gulita dunia yang tak lagi mengasyikkan Angkringan, 23/07/2018

Malam

Kali ini malam menjerit tentang secangkir kopi yang tak lagi pahit dan setoples biskuit yang tak lagi legit tentang bait-bait yang rumit dan dahi yang mengernyit tentang penyesalan yang berbukit dan tetesan air mata yang tak sedikit kukira engkau akan paham mengapa suasana kali ini begitu morat-marit Ponorogo, 21/07/2018

Sebongkah Rindu

Di sebuah kota yang berdebu aku datang dengan asa yang menderu untuk mencari sebongkah rindu yang sudah sekian kemarau tak bertemu Bagaimana kabarmu sebongkah rindu? kuharap engkau masih sejelita kupu-kupu yang sepasang sayapnya tak pernah layu meski di penjuru sana engkau terbelenggu Kota Bambu, 20/07/2018

Aku Malu pada Pak Tua

Kutelusuri jalan dari desa ke kota dengan ayah berbonceng dua menuju toko buku La Tansa mencari buku sastra yang baru kusuka Di sana kulihat ada sosok berusia senja kira-kira tujuh puluhan tahun usianya berpeci hitam berkemeja cokelat muda mengenakan sepasang sandal jepit Swallow sederhana teduh wajahnya menyiratkan berjuta makna melukiskan perangainya yang arif nan bijaksana kusebut ia dengan Pak Tua Aku malu pada Pak Tua meski telah berusia senja ia masih menyisihkan waktunya untuk berlama-lama berkelana mengitari toko buku dengan sukacita dari kategori buku sosial, ekonomi, sastra hingga agama sampai akhirnya ia membeli satu buku sastra dibawanya pulang untuk meluaskan khazanah ilmunya Aku malu pada Pak Tua sebab aku adalah anak muda yang sekian lama buta bahasa dan sastra aku tak gemar bercengkerama dengan puisi dan prosa hingga mencipta satu sajakpun hampir tak bisa jangankan bermesra dengan buku bahasa dan sastra buku pelajaranpun hanya kubuka kala ter...

Senandung Sunyi

Tatkala langit telah gulita burung enggan berkicau ayam malu berkokok embun belum membasahi rerumputan mata-mata terpejam jalanan lengang gelak tawa anak kecil dilenyap petang hanya ada desir angin gemulai tari tumbuhan gemericik air sungai lampu-lampu temaram aku duduk di atas kursi tua di sudut ruang berbalut sunyi menyenandungkan kesendirianku dalam lagu-lagu sendu Kini aku tersadar bahwa aku tak pernah berkawan sepi dari kiri-kananku atas-bawahku depan-belakangku ada Engkau Dzat Yang senantiasa mengawasi tiada sehelai daun yang gugur serintik gerimis yang menetes sekelopak mata yang berkedip sepasang kaki yang melangkah melainkan atas pengawasan-Mu Duhai Engkau Dzat Pembolak-balik hati akulah si durjana yang terjerembab di kubangan asa telah kutumpuk gelimang dosa sebab terlampau cinta pada yang fana kini kutasbihkan selaksa puji bagi-Mu Sang Esa kurayu Engkau dengan senandung cinta agar tatkala ajal menyapa Engkau tak mencipta petaka Sudut ...

BUNCAH

Aku buncah  Bagaimana jika esok Engkau menyoaliku tentang aku yang berpongah? tentang aku yang sedikitpun tak canggung mendurjanai-Mu? Aku buncah Bagaimana aku harus meronce jawabnya? Kemana aku harus mencari payung yang kan menaungiku? Detik demi detik bergerak begitu lincah Sementara aku senantiasa melengah diri dengan fantasi sampah Hingga aku lena perihal bekal untuk safar panjangku Seolah nyawa kan terus memelukku dan maut takkan melepasku dari pelukannya Celaka aku! O, Kasihku, aku telah menghampiri-Mu Aku jera. Belaskasihi aku, ringankan siksaku.  Sungguh, tiada payung yang kan menaungiku melainkan payung-Mu. Kampung Damai, 17/07/2018

Sepotong Rembulan

Sepotong rembulan di mataku seberapa tangis bila kulinangkan di pundakmu Sepotong rembulan di bibirku seberapa manis bila kukecupkan di pipimu Sepotong rembulan di lidahku seberapa magis bila kumantrakan di telingamu Sepotong rembulan di nadiku seberapa romantis bila kudenyutkan di tanganmu Sepotong rembulan di darahku seberapa gerimis bila kualirkan di tubuhmu Sepotong rembulan di jemariku seberapa ritmis bila kupetikkan di dawaimu Sepotong rembulan di doaku seberapa puitis bila kudendangkan di lagumu Sepotong rembulan di hatiku adakah menyinari gelapmu? Ponorogo, 16/7/2018

Mahabaik Engkau

Mahabaik Engkau Ujud keelokan yang tak tertunaikan Tercatat satu keelokan yang paripurna Ujud keelokan yang tertunaikan Terlipatganda ganjarannya Ujud nista yang tak tertunaikan Tercatat satu keelokan yang paripurna Ujud nista yang tertunaikan Tercatat satu sahaja Mahabaik Engkau Mahabaik Engkau

Gerimis Air Mata

Aku masih mengharapmu Kasihku, dalam puruk-parak debu yang menodai telapak kakiku Dalam kelambu kufur yang mengalingi kalbuku Dalam tawar rukuksujud yang kunyanyikan Senantiasa senyap mempersetanku Gaduh mengalpakanku dari mencakapmesraMu Angin kemarau merekam segenap gerak tindakku Aku dimabuk comberan asmara sepanjang denyut jantungku Tak ada huruf-huruf yang minta dirintihkan Tak ada berambai-ambai airmata yang mau dilinangkan Sepasang bibirku tak fasih mendzikirkan kemahakuasaanMu Yang kutahu, kendati bergunung tinggi alpaku, namun senantiasa melangit luas belas kasihMu O, Kasihku, bolehkah aku kembali mengetuk pintuMu dengan gerimis air mata sahaja?

Rindu Candu

Aku tergolek di atas permadani biru Memandangi buku dan pena saling bercumbu Menyimak buaian kidung syahdu Memagut syair-syair kelabu Dara manisku bilang, akulah rindu yang buatnya candu Seperti rindu mentari pagi pada kicau Pipit yang merdu

HIJRAH ILMU

Gambar
          Secara spontan, selama ini yang terlintas pada benak saya saat mendengar kata "membaca dan menulis" adalah bahwa membaca adalah hal yang paling membosankan, menjenuhkan dan memenatkan kepala. Sedangkan menulis adalah hal yang sangat rumit nan pelik, atau ia adalah suatu bakat langka yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Berbeda dengan menggocek si kulit bundar yang sungguh mengasyikkan, berjam-jam duduk i'tikaf depan layar untuk bermain PES yang menggembirakan hati, melihat video cuplikan bola di instagram yang menghibur diri, membaca dan menulis bagi saya adalah sesuatu yang  sangat menjijikkan. Buktinya dalam 24 jam sehari saja belum tentu saya menyisihkan waktu sejenak saja untuk membaca beberapa halaman buku, atau menulis walaupun hanya satu paragraf saja. Saya tidak memungkiri akan pentingnya membaca dan menulis. Saya juga percaya bahwa mayoritas manusia (khususnya yang berpendidikan) menyadari betul akan pentingnya membaca da...