Aku Malu pada Pak Tua

Kutelusuri jalan dari desa ke kota
dengan ayah berbonceng dua
menuju toko buku La Tansa
mencari buku sastra yang baru kusuka

Di sana kulihat ada sosok berusia senja
kira-kira tujuh puluhan tahun usianya
berpeci hitam berkemeja cokelat muda
mengenakan sepasang sandal jepit Swallow sederhana
teduh wajahnya menyiratkan berjuta makna
melukiskan perangainya yang arif nan bijaksana
kusebut ia dengan Pak Tua

Aku malu pada Pak Tua
meski telah berusia senja
ia masih menyisihkan waktunya
untuk berlama-lama berkelana
mengitari toko buku dengan sukacita
dari kategori buku sosial, ekonomi, sastra hingga agama
sampai akhirnya ia membeli satu buku sastra
dibawanya pulang untuk meluaskan khazanah ilmunya

Aku malu pada Pak Tua
sebab aku adalah anak muda
yang sekian lama buta bahasa dan sastra
aku tak gemar bercengkerama dengan puisi dan prosa
hingga mencipta satu sajakpun hampir tak bisa
jangankan bermesra dengan buku bahasa dan sastra
buku pelajaranpun hanya kubuka kala terpaksa
tak apa nihil ilmu asal nilai bisa direkayasa

Akulah anak muda yang merasa pandai tapi tak pandai merasa
tak ada yang bisa kubanggakan pada semesta
tak peduli apa gunaku untuk bangsa dan agama
yang penting aku bisa hidup leluasa


Toko Buku La Tansa, 19/07/2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What is Tasyji' Ghonam?

Ngeblog

Aku akan melamarmu lagi