Senandung Sunyi
Tatkala langit telah gulita
burung enggan berkicau
ayam malu berkokok
embun belum membasahi rerumputan
mata-mata terpejam
jalanan lengang
gelak tawa anak kecil
dilenyap petang
hanya ada desir angin
gemulai tari tumbuhan
gemericik air sungai
lampu-lampu temaram
aku duduk di atas kursi tua
di sudut ruang berbalut sunyi
menyenandungkan kesendirianku
dalam lagu-lagu sendu
Kini aku tersadar bahwa
aku tak pernah berkawan sepi
dari kiri-kananku
atas-bawahku
depan-belakangku
ada Engkau Dzat Yang senantiasa mengawasi
tiada sehelai daun yang gugur
serintik gerimis yang menetes
sekelopak mata yang berkedip
sepasang kaki yang melangkah
melainkan atas pengawasan-Mu
Duhai Engkau Dzat Pembolak-balik hati
akulah si durjana
yang terjerembab di kubangan asa
telah kutumpuk gelimang dosa
sebab terlampau cinta pada yang fana
kini kutasbihkan selaksa puji bagi-Mu Sang Esa
kurayu Engkau dengan senandung cinta
agar tatkala ajal menyapa
Engkau tak mencipta petaka
Sudut kamar, 18/07/2018
burung enggan berkicau
ayam malu berkokok
embun belum membasahi rerumputan
mata-mata terpejam
jalanan lengang
gelak tawa anak kecil
dilenyap petang
hanya ada desir angin
gemulai tari tumbuhan
gemericik air sungai
lampu-lampu temaram
aku duduk di atas kursi tua
di sudut ruang berbalut sunyi
menyenandungkan kesendirianku
dalam lagu-lagu sendu
Kini aku tersadar bahwa
aku tak pernah berkawan sepi
dari kiri-kananku
atas-bawahku
depan-belakangku
ada Engkau Dzat Yang senantiasa mengawasi
tiada sehelai daun yang gugur
serintik gerimis yang menetes
sekelopak mata yang berkedip
sepasang kaki yang melangkah
melainkan atas pengawasan-Mu
Duhai Engkau Dzat Pembolak-balik hati
akulah si durjana
yang terjerembab di kubangan asa
telah kutumpuk gelimang dosa
sebab terlampau cinta pada yang fana
kini kutasbihkan selaksa puji bagi-Mu Sang Esa
kurayu Engkau dengan senandung cinta
agar tatkala ajal menyapa
Engkau tak mencipta petaka
Sudut kamar, 18/07/2018
Komentar
Posting Komentar