Gerimis Air Mata
Aku masih mengharapmu Kasihku, dalam puruk-parak debu yang menodai
telapak kakiku
Dalam kelambu kufur yang mengalingi kalbuku
Dalam tawar rukuksujud yang kunyanyikan
Senantiasa senyap mempersetanku
Gaduh mengalpakanku dari mencakapmesraMu
Angin kemarau merekam segenap gerak tindakku
Aku dimabuk comberan asmara sepanjang denyut jantungku
Tak ada huruf-huruf yang minta dirintihkan
Tak ada berambai-ambai airmata yang mau dilinangkan
Sepasang bibirku tak fasih mendzikirkan kemahakuasaanMu
Yang kutahu, kendati bergunung tinggi alpaku, namun senantiasa melangit luas belas kasihMu
O, Kasihku, bolehkah aku kembali mengetuk pintuMu dengan gerimis air mata sahaja?
telapak kakiku
Dalam kelambu kufur yang mengalingi kalbuku
Dalam tawar rukuksujud yang kunyanyikan
Senantiasa senyap mempersetanku
Gaduh mengalpakanku dari mencakapmesraMu
Angin kemarau merekam segenap gerak tindakku
Aku dimabuk comberan asmara sepanjang denyut jantungku
Tak ada huruf-huruf yang minta dirintihkan
Tak ada berambai-ambai airmata yang mau dilinangkan
Sepasang bibirku tak fasih mendzikirkan kemahakuasaanMu
Yang kutahu, kendati bergunung tinggi alpaku, namun senantiasa melangit luas belas kasihMu
O, Kasihku, bolehkah aku kembali mengetuk pintuMu dengan gerimis air mata sahaja?
Komentar
Posting Komentar