HIJRAH ILMU
Secara spontan, selama ini yang terlintas pada benak saya saat mendengar kata "membaca dan menulis" adalah bahwa membaca adalah hal yang paling membosankan, menjenuhkan dan memenatkan kepala. Sedangkan menulis adalah hal yang sangat rumit nan pelik, atau ia adalah suatu bakat langka yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Berbeda dengan menggocek si kulit bundar yang sungguh mengasyikkan, berjam-jam duduk i'tikaf depan layar untuk bermain PES yang menggembirakan hati, melihat video cuplikan bola di instagram yang menghibur diri, membaca dan menulis bagi saya adalah sesuatu yang sangat menjijikkan. Buktinya dalam 24 jam sehari saja belum tentu saya menyisihkan waktu sejenak saja untuk membaca beberapa halaman buku, atau menulis walaupun hanya satu paragraf saja.
Saya tidak memungkiri akan pentingnya membaca dan menulis. Saya juga percaya bahwa mayoritas manusia (khususnya yang berpendidikan) menyadari betul akan pentingnya membaca dan menulis. Tanpa membaca dan menulis mustahil sebuah bangsa bisa maju. Lantas mengapa membaca dan menulis belum membudaya pada masyarakat kita? Tentu setiap orang punya alasan sendiri untuk membenarkan kesalahannya. Saya pribadi beralasan karena malas, tidak adanya lingkungan yang mendukung, dan tidak ada tuntutan mengapa harus membaca dan menulis.
Alhamdulillah, merupuakan nikmat yang harus saya syukuri bahwa saat ini saya sedikit demi sedikit menyadari pentingnya membaca buku. Berawal dari jualan buku sejak semester 3-5, saya mengenal beberapa pelanggan yang haus ilmu. Dari situlah saya serasa ditampar oleh usaha yang saya lakukan. Betapa lucunya saya yang jualan buku, gencar mempromosikan buku-buku terbaru, memotivasi teman-teman di sosial media untuk semangat membaca, namun justru saya sendirilah yang tidak punya banyak koleksi buku, yang super malas membaca buku. Walhasil, usaha itu tidak berjalan dengan baik, mungkin salah satunya karena saya hanya mengatakan apa yang saya sendiri tidak lakukan.
Mulai saat ini saya bertekad untuk rajin membaca, karena sebagaimana ujar Syaikh Fuad Shahih, "Sangat aneh jika umat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak rajin membaca, padahal wahyu pertama yang diterima beliau adalah perintah: Iqra', Bacalah!". Mustahil pula orang dapat menulis jika ia tak gemar membaca. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan "Faaqidu al-syai' la yu'thi", orang yang tak punya apapun tak bisa memberi apapun.
Adapun dalam hal menulis, banyak alasan mengapa seseorang harus menulis. Ada orang yang menulis untuk berbagi ide/pemikiran, menghilangkan stress, mengisi waktu luang, mencari uang, menjadi terkenal, merekam sejarah, tuntutan pekerjaan, hobi, ada juga yang menulis karena panggilan hidup, dan inilah puncak tertinggi dari tujuan menulis, karena baginya menulis merupakan jalan untuk menjadi khoirunnas, sebaik-baik manusia yang anfa'uhum linnas, paling bermanfaat bagi orang lain. Menulis merupakan salah satu cara baginya untuk memberi perubahan yang lebih baik bagi dirinya dan orang banyak.
Saya juga pernah mendapat nasihat tatkala saya sowan ke rumah seorang doktor ahli dalam bidang literasi di Ponorogo. Ia menasihati bahwa menulis adalah proses menuju sehat secara keilmuan. Gemar membaca tanpa menulis layaknya seseorang yang selalu makan dan minum tapi tidak pernah buang air. Ia akan sakit. Menulis bukanlah bakat sejak lahir. Menulis merupakan keahlian yang harus selalu diasah. Menulis seperti belajar bersepeda yang tak perlu banyak teori bagaimana cara mengendarainya. Cukup memperhatikan bagaimana orang bersepeda, memulai latihan, jatuh, dan bangkit lagi.
Bagi saya menulis dan membaca adalah hijrah ilmu. Menulis adalah proses hijrah untuk menjadi Mufti Nabil Rafsanjani yang lebih baik dari sebelumnya. Karena hijrah bukan hanya menyoal hijrah secara fisik semata. Inti dari hijrah adalah berubah dari keadaan yang buruk menjadi lebih baik. Dan yang dimaksud dengan hijrah ilmu adalah hijrah dari kejahilan menuju keilmuan. Hijrah dari malas membaca menjadi semangat membaca. Hijrah dari malas menulis menjadi giat untuk berlatih menulis.
Mulai saat ini, tanggal 13 Juli 2018, saya bertekad untuk membaca buku setiap hari dan menulis setiap hari walaupun hanya satu paragraf saja. Tulisan ini saya jadikan sebagai langkah pertama saya dalam belajar menulis. Mohon dimaklumi jika tidak jelas bagaimana saya memberi introduction pada tulisan ini, menceritakan tujuan saya, hingga memberi konklusinya, karena ini memang awal langkah saya dalam belajar menulis. Saya memohon do'a kalian semoga ke depan tulisan saya semakin membaik. Aamiin.
Di akhir tulisan ini, marilah kita merenungi kata-kata Pramoedya Ananta Toer yang menyadarkan diri kita untuk segera berlatih menulis. "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

Komentar
Posting Komentar